Jumat, 15 November 2013

Rumahku bersih Rumahku kotor


Lagi duduk-duduk ni di tempat kerjaan. Gak tau mau ngapain, mau berbagi bingung buat apa. Nanya teman sekantor, ngobrol-ngobrol tentang 'Bumi Hanya Titipan' jadi muncul deh ide tentang bagaimana kita harus menyelamatkan dan melestarikan bumi kita ini. Bener. Bumi ini memang hanya titipan. Tapi kok banyak ya yang tega merusak bumi kita hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi masing-masing orang.



Gak, terasa ya bentar lagi kita mau mengadakan pesta rakyat. Apa itu?
Pesta Demokrasi. Kita sebagai rakyat Indonesia akan melakukan pemilihan umum untuk orang no 1 di Indonesia dan wakil kita di parlemen nantinya. Tentu sekarang lah waktu yang tepat untuk mereka-mereka memperkenalkan siapakah dirinya. Yaaa, buat apa lagi coba kalau gak untuk menarik simpati rakyat. Ada yang menjual nama keluarga, gelar, pengalaman, banyak deh. Perkenalan itu mulai dilakukan melalui Media Televisi, Koran, pemasangan baliho dan apa saja yang penting orang kenal dia dan simpati memilihnya sampai-sampai memberi uang,hihii.

Pasti kalian pada bingung yaaaaa, dua paragraph di atas kok jalan ceritanya gak nyambung. Sebenarnya memang gak nyambung kalau tidak ada paragraph berikutnya, hehehe. Tenang dulu, disini saya belum selesai bercengkrama di tulisan ini. Disini saya ingin menggabungkan antara kedua paragraph diatas dan itulah initinya dari rumahku bersih rumahku kotor.

Dimusim kampanye ini, sudah banyak baliho-baliho yang terlihat di sepanjang jalan, mulai yang berada di tempat papan iklan sampai yang diletakkan disembarang tempat. Bukan memperindah kota malah justu merusak pemandangan. Dalih-dalih memerhatikan rakyat justru merusak kota yang sudah indah dibentuk dengan sedemikian rupa.

Para politikus hanya mementingkan diri sendiri. Mereka hanya menebar janji untuk menjaga kota dengan baik, namun dengan baliho yang ada mereka malah mengotori kota itu sendiri. Tidak sedikit juga mereka yang memasang baliho di pohon, di tempat yang bukan merupakan papan iklan, di pinggir jalan sehingga membuat pemandangan kota menjadi kotor. Rumahku yang bersih telah dikotori dengan janji kotor melalui baliho itu.


Komisi Pemilihan Umum yang sudah menetapkan waktu istirahat dimana tidak boleh ada lagi baliho yang terpampang sangat tidak digubris oleh para politikus itu. Sampai-sampai petugas KPU bekerjasama dengan Satpol PP daerah setempat membersihkan semua baliho yang ada. Kemana para politikus itu?
Sepertinya memang benar, rumahku yang bersih dikotori oleh orang-orang yang mengatasnamakan dirinya 'pembersih rumah'. Seakan-akan pesta demokrasi adalah ajang mengotori 'rumah' kita.

Mari kita lebih bijak melihat itu dan menjaga 'rumah' kita.
Memang benar 'Bumi ini hanya titipan yang harus kita jaga' Kalau tidak kita yang menjaga, Siapa lagi?
Jangan kotori rumahku.

Nb : Khusus Politikus Tolong lebih Bijak lagi dalam berkampanye, rakyat kenal siapa dirimu kalau anda memang benar (buat yang tertarik didunia politik juga nantinya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger Medan Community