Kamis, 05 Desember 2013

Kesehatan Indonesia

           Sebenarnya apa sih yang menjadi hal terpenting dalam kehidupan ini?
      Ada yang bilang hal yang terpenting dalam kehidupan ini adalah kekayaan, kehormatan, dan keturunan yang sukses. Kalau mau kita pikir-pikir, ketiga hal itu memang yang paling dicari-cari dari kehidupan di dunia ini. Semua orang sibuk bekerja dari pagi hingga malam hanya untuk mendapatkan satu kata yang bagi semua orang sangat dinantikan, yaitu uang. Dengan adanya uang setiap orang tentu dapat membeli apa saja, mulai dari barang-barang yang diinginkan sampai kehormatan pun dapat dibeli.
          Kalau kita mau berpikir lebih jauh lagi, sebenarnya bukanlah ketiga hal tadi yang paling penting dalam kehidupan ini. Kesehatan, itulah sebenarnya yang paling penting untuk dikejar. Punya kekayaan, kehormatan dan keturunan yang sukses tapi kalau tidak memiliki  kesehatan, untuk apa? Itu artinya kita tidak bisa menikmati apa yang kita miliki. Satu-satunya yang hanya bisa dilakukan adalah termenung menahan rasa sakit dalam ruangan yang sempit. Bahkan, lebih buruk dari penjara. Rumah sakit? Siapa sih yang mau tinggal disitu?
        Tapi coba kita putar, punya kesehatan tapi tidak punya kekayaan, kehormatan dan keturunan yang sukses. Tentu masih jauh lebih baik karena dengan kesehatan yang dimiliki, bisa menikmati indahnya dunia. Gak ada kekayaan? Bisa bekerja, bahkan kehormatan dan keturunan pun bisa didapat. Jauh lebih enak tentunya memiliki kesehatan. Meskipun kekayaan, kehormatan dan keturunan yang sukses juga penting tetapi tentu kesehatan jauh lebih penting lagi.

        Bagaimana kalau kejadiannya lebih buruk lagi, tidak memiliki kekayaan, kehormatan dan keturunan yang sukses dan ditambah lagi tidak memiliki kesehatan. Kaum dhuafa atau miskin yang sedang sakit, itulah sebutan yang paling tepat untuk menggambarkan kejadian tersebut. Biaya kesehatan memang sangat-sangat mahal sehingga tidak jarang kita mendengar istilah "orang miskin dilarang sakit". Sungguh miris memang melihat kondisi itu. Banyak rumah sakit yang menolak untuk merawat pasien hanya dengan alasan klasik, bayar uang muka baru ditangani. Uang dari mana? Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, kaum dhuafa sudah berjuang penuh apalagi untuk bayar uang muka rumah sakit.
        Sebagai Warga Negara Indonesia, hati saya sangat terpukul melihat kondisi itu. Banyak saya jumpai kejadian yang mengiris hati, seperti adanya penolakan-penolakan dari pihak rumah sakit hanya alasan dana, korban kecelakaan yang tidak ditangani karena tidak ada uang muka, sampai masuk rumah sakit, namun tidak ditangani beberapa hari hanya karena dana dan sampai-sampai tidak sedikit pasien dhuafa yang semakin parah dan berujung nyawa. Padahal mereka berjuang ikut askes untuk membantu perawatan kesehatan mereka, tapi itu pun tidak berhasil dengan alasan kurang dana. Sampai-sampai ada berita baru-baru ini yang menyatakan adanya aksi mogok dokter yang berakibat banyak pasien terlantar.
         Bayangkan saja, kaum dhuafa sampai tidak makan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, bekerja siang hari dibawah teriknya matahari dan dinginnya malam hanya untuk menyambung hidup esok hari. Memang kesehatan mereka sangat rentan dengan keadaan seperti itu. Tapi kalau tidak begitu, mereka tidak bisa menyambung hidup. Tidak sedikit kaum dhuafa yang menahan sakitnya untuk tidak diobati hanya karena tidak memiliki biaya. Padahal seperti yang kita tahu dalam pasal 34 ayat (1) UUD 1945 disebutkan bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara” Artinya, secara langsung disebutkan bahwa kaum dhuafa adalah tanggung jawab negara. Tapi kenapa masih ada kejadian mengerikan tadi?
          Jumlah alokasi pemerintah untuk kesehatan terbilang cukup tinggi yaitu Kementerian Kesehatan dalam RAPBN tahun  2014 mendapat alokasi anggaran sebesar Rp44.859,0 miliar. Jumlah ini lebih  tinggi Rp8.266,9 miliar atau 22,6 persen bila dibandingkan dengan pagu APBNP tahun 2013  sebesar Rp36.592,2 miliar (sumber: depkeu.go.id). Tentu apabila dipergunakan dengan baik akan membantu pemenuhan kesehatan negara kita. Namun, hanya karena ulah para koruptor semua itu berubah. Dana yang dialokasikan tidak terkena pada sasaran yang tepat. Itulah pemicu utama yang menyebabkan kejadian tragis ini.
         Untuk mewujudkan Indonesia sehat sebenarnya tidaklah sulit hanya saja kalau semua lapisan di negara kita ini saling bekerjasama menggiatkan pentingnya kesehatan. Mulai dari kesadaran tidak mengkorupsi anggaran yang ada untuk kesehatan, sampai membentuk lembaga yang menjadi pemerhati dan sarana untuk mengumpulkan bantuan baik materi maupun non materi seperti Lembaga Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa yang menjadi wadah untuk menggiatkan pentingnya kesehatan bagi yang membutuhkan. Mari kita dukung terus lembaga-lembaga yang bergiat dalam hal kesehatan.
            Kalau bukan kita, siapa lagi?
            Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
         Saya yakin, rakyat Indonesia dapat memiliki kesadaran untuk memerhatikan kesehatan Indonesia. Suatu saat nanti tidak akan ada lagi berita yang menyatakan "rumah sakit menolak rakyat miskin" atau bahkan pernyataan "orang miskin dilarang sakit" karena saya percaya bahwa dengan artikel ini para pembaca akan sadar tentang pentingnya kesehatan dan menggiatkannya.         

           Kesehatan bukan milik orang berduit saja tetapi orang tidak berduit (miskin) pun berhak memilikinya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger Medan Community