Rabu, 11 Desember 2013

Melayani sepenuh hati


Setiap orang di dunia ini pasti menginginkan yang namanya kesehatan. Kesehatan memang tidak bisa dibeli dengan uang. Banyak alternative yang diambil orang untuk mendapatkan kesehatan, mulai dari yang tidak membutuhkan biaya, seperti lari pagi sampai yang membutuhkan biaya yang cukup mahal, seperti membeli alat-alat kesehatan (alat fitnes).
Semua upaya yang orang lakukan itu semata hanyalah untuk dapat menikmati hidup ini. Bayangkan saja, kalau kita memiliki harta, jabatan, kehormatan dan semua yang dibutuhkan manusia, tetapi tidak memiliki kesehatan. Tentu tidak bisa menikmati semua itu. Justru yang ada hanyalah kesengsaraan yang tiada tara.
Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kehidupan ini. Setiap orang tentu sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjaga kesehatannya, namun disisi lain orang tersebut memiliki kelemahan yang memungkinkan dirinya terserang penyakit. Dokter, itulah gelar yang bergerak dibidang kesehatan yang mempunyai ilmu lebih yang dapat dimintai keterangan mengenai penyakit seseorang dan bahkan mampu membantu pemulihan orang tersebut.

PELAYANAN KESEHATAN

Hanya sekedar berkonsultasi sebentar, sudah mendapatkan banyak uang. Belum kalau member resep obat dan sampai melakukan operasi, tentu sudah sangat banyak pendapatan yang diperoleh para dokter di dunia ini, khususnya di Indonesia. Seolah para dokter itu adalah raja. Orang yang sakit lah yang membutuhkan dokter. Itulah yang membuat pelayanan kesehatan di negeri kita ini menjadi semakin menurun. Tidak ada lagi keramahtamahan dirumah sakit, seolah-olah hanya mementingkan yang namanya uang. Tidak ada uang tidak akan diurus, tidak ada uang proses tidak dapat berjalan.
Padahal sebenarnya bukan hanya orang sakit yang membutuhkan dokter tetapi dokter juga membutuhkan orang sakit. Bayangkan kalau tidak ada orang sakit, pasti dokter tidak akan bekerja. Ini merupakan hubungan yang seharusnya saling melengkapi tanpa melibatkan ego pribadi. Tapi itulah realita kehidupan yang ada, seolah-olah dokter lah yang begitu dinantikan oleh orang sakit. Sehingga begitu banyak kematian sia-sia yang terjadi hanya karena terlambat mendapat penanganan dari bagian kesehatan.

“Kemana dokternya mba”  Tanya seorang Keluarga pasien

“Sebentar lagi ya Buk, dokternya sedang keluar ada praktek”  Jawab seorang perawat rumah sakit.

Itulah perbincangan singkat yang sering ditemui ketika kita mengantar Keluarga kita yang sedang sakit dan membutuhkan penanganan segera. Seolah, dari perbincangan singkat tadi, dokter lebih mementingkan praktek pribadi yang notabene nya menghasilkan uang lebih banyak dari pada dirumah sakit sendiri.  Ditunggu beberapa jam dokter pun tak kunjung datang, justru dokter datang disaat sudah lagi tidak dibutuhkan. Bahkan pasien ada yang sampai meninggal. Kemana dokter jaga yang seharusnya stand by melayani keluhan mendadak? Dimana proses penanganan yang seharusnya dilaksanakan dengan optimal? Apa harus menunggu nyawa melayang baru ditangani?

Saya memiliki banyak pengalaman yang tidak mengenakan di dunia kesehatan. Karena memang dari kecil saya merupakan pengunjung setia rumah sakit. Dari kecil memang saya sering sakit, mulai dari paru-paru basah, amandel yang sangat parah, susah makan sehingga badan saya sangat kurus. Tapi bukan itu yang mau saya bagikan kepada para pembaca. Tetapi mengenai ayah saya.

Ayah saya adalah seorang tentara yang merupakan prajurit paling depan. Pada waktu itu saya masih kecil namun sudah mengetahui sedikit kejadian pada waktu itu. Saya lupa pasti ayah saya menderita apa kemarin, kalau saya tidak salah mengenai organ bagian dalam gitu, tentang jantung. Ibu saya membawa ayah ke rumah sakit tentara supaya mendapat keringanan biaya. Sampai beberapa hari keadaan ayah saya semakin parah karena belum mendapatkan penangan yang cukup serius dari tim kesehatan. Sampai pada waktu itu, ada pasien yang masuk dan belum juga mendapatkan pertolongan segera. Hanya dimasukkan ke ruang inap dan diterlantarkan. Sampai keesokan harinya, pasien tersebut meninggal dunia.
Melihat kondisi tersebut, ibu saya sangat syok dan tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Sampai ibu saya membuat keputusan untuk memindahkan ayah saya ke rumah sakit lain. Namun, ketika pihak rumah sakit dihubungi, mereka tidak mengijinkan. Dengan alas an ayah saya tentara dan merupakan tanggung jawab rumah sakit dan sudah terdaftar. Ibu saya semakin geram menghadapi kondisi ini. Ibu saya marah-marah dan langsung membawa keluar ayah dengan mengambil kursi roda untuk membawa ayah saya keluar rumah sakit. Melihat itu, pihak rumah sakit kebingungan dan mengatakan bahwa kejadian tersebut diluar tanggung jawab rumah sakit.

“Apa mau sampai meninggal baru mendapat penanganan?” Jawab ibu saya sambil meninggalkan rumah sakit dan meletakkan kursi roda di depan pintu ICU. Akhirnya ayah saya dibawa ke rumah sakit lain untuk mendapatkan penanganan segera meskipun dengan harga yang sangat mahal. Nyawa memang tidak bisa dibeli, itulah yang terpikir dalam benak ibu saya.


Itu pengalaman yang tak terlupakan.
Saya hanya berharap agar pelayanan kesehatan di Negeri kita ini bisa lebih dioptimalkan, terkhusus rumah sakit pemerintahan. Melayanilah dengan sepenuh hati mu :)




2 komentar:

  1. kadang rumah sakit memang begitu, banyak sekali keluhan atas pelayanan mereka. Kurang tanggap.

    harus selalu di desak baru bertindak, bikin kesal memang

    BalasHapus
  2. keren sekali pengalamannya tentang kesehatan mas, sangat bermanfaat :)
    makasih sharingnya ^^

    BalasHapus

Blogger Medan Community